![]() |
| BANG ADHA |
Media Belajar Mata Kuliah Teknik Produksi Film Dakwah II dan Produksi Siaran Televisi II, Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor
Tentang Kami...
Tata, Artistik & Editing (Siti Jamilah) Part 1
Seni (Art)
A.
Definisi
Sebenarnya hingga saat ini belum
ditemukan definisi dari seni yang mutlak. Namun paling tidak ada 3 definisi yang saya ambil karena mendekati.
- Seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk menyenangkan
- Seni, merupakan emosi yang menjelma menjadi suatu ciptaan yang menyenangkan
- Seni, hasil getaran jiwa dan keselarasan dari perasaan serta fikiran yang mewujudkan sesuatu yang indah.
Penyutradaraan (Seno Wikantyoso)
Mungkin untuk sebagian orang pengertia sutradara
sangatlah simple, yaitu sebagai seorang
yang membuat film.
Sutradara juga adalah orang yang pertama kali disebutkan bila film itu bagus atau tidak, cth : "ni film jelek bgt, siapa sih sutradaranya?" atau "gila bgt ni film, keren abis, sutaradaranya top dah".
Sutradara juga adalah orang yang pertama kali disebutkan bila film itu bagus atau tidak, cth : "ni film jelek bgt, siapa sih sutradaranya?" atau "gila bgt ni film, keren abis, sutaradaranya top dah".
Namun ternyata tidak sesimple itu, saya menumukan dan
mempelajari beberapa pengertian sutradara, ada beberapa pengertian sutradara
diantaranya:
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda S. : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis ( bila dalam teater ).
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda S. : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis ( bila dalam teater ).
Apapun itu kesimpulannya adalah sutradara adalah orang
yang bertanggung jawab pada hasil karya berupa pertunjukan / audio visual yang
mengandung visi misi yang ingin disampaikan secara teknik / artistik melalui
media yang dianggap bermanfaat secara positif bagi khalayak banyak ataupun bagi
dirinya sendiri.
Beberapa istilah sutradara:
1. Sutradara ( Film & Televisi )
2. Pengarah Acara ( Televisi )
3. Program Director ( Televisi )
4. Producer Director ( Televisi & Film )
Penyutradaraan Sutradara
Beberapa istilah sutradara:
1. Sutradara ( Film & Televisi )
2. Pengarah Acara ( Televisi )
3. Program Director ( Televisi )
4. Producer Director ( Televisi & Film )
Penyutradaraan Sutradara
Sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat.
Di lapangan seorang sutradara
berperan sebagai
manajer, kreator, dan sekaligus inspirator bagi anggota tim produksi dan para
pemeran. Peran yang sedemikian besar mengharuskan sutradara memahami benar konsep cerita, memahami situasi
lingkungan maupun psikologis para pelibat produksi, dan juga harus memahami
bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan semua pelibat produksi. Ibarat
tubuh manusia, sutradara adalah
otaknya, dan yang lain adalah seluruh anggota badan. Otak memerlukan anggota
badan untuk mewujudkan gagasan, badan memerlukan otak untuk mengendalikan.
1. Tugas Sutradara
Menurut
sutradara berbakat, Harry
Suharyadi, tugas seorang sutradara
adalah menerjemahkan atau menginterpretasikan sebuah skenario dalam bentuk
imaji/gambar hidup dan suara. Pada umumnya, seorang sutradara tidak merangkap sebagai produser, meskipun di Amerika
cukup banyak sutradara yang
merangkap produser seperti beberapa kali Kevin Costner merangkap sutradara sekaligus produser.
Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni:
1) praproduksi,
2) produksi atau shooting,
3) pascaproduksi.
Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni:
1) praproduksi,
2) produksi atau shooting,
3) pascaproduksi.
Tugas
sutradara adalah pada tahap
produksi. Namun bukan berarti sutradara
tidak perlu mengetahui aspek praproduksi dan pasca produksi. Pemahaman praproduksi
akan mencegah sikap arogan dan tutuntutan yang berlebih atas peralatan dan
aspek-aspek penunjang produksi yang notabene merupakan tugas tim praproduksi.
Misalnya, sutradara tidak
terlalu menuntut disediakan pemeran yang honornya mahal apabila ia menyadari
bahwa tim budgeting tidak menganggarkan dana berlebih untuk honor pemeran.
Pemahaman pascaproduksi akan mencegah sutradara
menginstruksikan pengambilan gambar dengan komposisi atau enggel yang
penyambungannya mustahil dilakukan oleh editor.
2. Rumus 5-C
2. Rumus 5-C
Sebelum
seorang sutradara mengarahkan
semua pemain dalam sebuah produksi, ada baiknya sutradara memiliki kepekaan terhadap Rumus 5 –C, yakni close up
(pengambilan jarak dekat), camera angle (sudut pengambilan kamera), composition
(komposisi), cutting (pergantian gambar), dan continuity (persambungan
gambar-gambar) (Hartoko 1997: 17). Kelima unsur ini harus diperhatikan oleh sutradara berkaitan dengan tugasnya
nanti di lapangan.
Close Up
Close Up
Unsur
ini diartikan sebagai pengambilan jarak dekat. Sebelum produksi (shooting d I
lapangan) harus mempelajari dahulu skenario, lalu diuraikan dalam bentuk
shooting script, yakni keterangan rinci mengenai shot-shot yang harus
dijalankan juru kamera. Terhadap unsur close up, dia harus betul-betul
memperhatikan, terutama berkaitan dengan emosi tokohnya. Gejolak emosi,
peradaban gundah sering harus diwakili dalam shot-shot close up. Bagi seorang
kritikus film, sering unsur menjadi poin tersendiri ketika menilai sebuah film.
Untuk itu, unsur ini harus menjadi perhatian sutradara.
Camera Angle
Unsur
ini sangat penting untuk memperlihatkan efek apa yang harus muncul dari setiap
scene (adegan). Jika unsur ini diabaikan bisa dipastikan film yang muncul
cenderung monoton dan membosankan sebab camera angle dan close up sebagai unsur
visualisasi yang menjadi bahan mentah dan harus diolah secermat mungkin. Harry
mencontohkan, untuk film-film opera sabun sering ada pembagian kerja antara
pengambilan gambar yang long shot d a n close up untuk kemudian diolah dalam
proses editingnya. Variasi pengambilan gambar dengan camera angle dapat
mengayakan unsur filmis sehingga film terasa menarik dan memaksa penonton untuk
mengikutinya terus.
Composition
Composition
Unsur
ini berkaitan erat dengan bagaimana membagi ruang gambar dan pengisiannya untuk
mencapai keseimbangan dalam pandangan. Composition merupakan unsur visualisasi
yang akan memberikan makna keindahan terhadap suatu film. Pandangan mata
penonton sering harus dituntun oleh komposisi gambar yang menarik. Tidak jarang
para peresensi film memberikan penilaian terhadap unsur ini karena unsur inilah
yang akan menjadi pertaruhan mata penontonnya. Jika aspek ini diabaikan, jangan
harap penonton akan menilai film ini indah dan enak ditonton. Seorang sutradara harus mampu mengendalikan
aspek ini kepada juru kamera agar tetap menjadi komposisi secara proporsional
berdasarkan asas komposisi.
Cutting
Cutting
Diartikan
sebagai pergantian gambar dari satu scene ke scene lainnya. Cutting termasuk
dalam aspek pikturisasi yang berkaitan dengan unsur penceritaan dalam urutan
gambar-gambar. Sutradara harus
mampu memainkan imajinasinya ketika menangani proses shooting. Imajinasi yang
berjalan tentunya bagaimana nantinya jika potongan-potongan scene ini diedit
dan ditayangkan di monitor.
Continuity
Continuity
Unsur
terakhir yang harus diperhatikan sutradara
adalah continuity, yakni unsure persambungan gambar-gambar. Sejak awal, sutradara bisa memproyeksikan
pengadegan dari satu scene ke scene lainnya. Unsur ini tentunya sangat
berkaitan erat dengan materi cerita. Sering penonton merasa film yang
ditontonnya loncat ke sana atau ke mari tidak karuan sehingga membuat bingung.
Terhadap kasus ini karena sutradara
tidak mampu memperhatikan aspek kontinuitas dari film yang digarapnya.
3. Unsur Visual (visual element)
3. Unsur Visual (visual element)
Selanjutnya
masih dalam tahap persiapan penyutradaraan,
seorang sutradara juga harus
memahami unsur-unsur visual (visual element) yang sangat penting dalam
mengarahkan seluruh krunya. Ada enam unsur visual yang harus diperhatikan,
sikap pose (posture), gerakan anggota badan untuk memperjelas (gesture),
perpindahan tempat (movement), tindakan/perbuatan tertentu (purpose action),
ekspresi wajah (facial expression), dan hubungan pandang (eye contact)
(Hartoko, 1997:25).
Sikap/Pose
Sikap/Pose
Jika
anda mengarahkan para pemain dalam film yang anda buat, hal pertama yang
menjadi arahan adalah sikap/pose (posture) pemainnya. Ini sangat erat kaitannya
dengan penampilan pemain di depan kamera. Dengan monitor yang tersedia, sutradara harus mampu memperhatikan
pose pemainnya secara wajar dan memenuhi kaidah dramaturgi. Sebelum pose sesuai
dengan tuntutan skenario usahakan sutradara
jangan putus asa terus mencoba. Apalagi untuk kalangan indie yang cenderung
pemainnya masih baru atau belum pernah main sama sekali (tetapi gratis).
Gerakan Anggota Badan
Gerakan Anggota Badan
Sesuai
dengan shooting script, tentunya seorang atau beberapa pemain harus
menggerakkan anggota tubuhnya. Namun, gesture yang mereka mainkan harus
betul-betul kontekstual. Artinya, harus betul-betul nyambung dengan gerakan
anggota tubuh sebelumnya. Misalnya, setelah seorang pemain minum air dari gelas
tentunya gerakan berikutnya mengembalikan gelas tersebut dengan baik. Jangan
sampai ada gerakan-gerakan tubuh yang secara filmis dapat menimbulkan
kejanggalan.
Perpindahan Tempat
Perpindahan Tempat
Seorang
Sutradara dengan jeli akan
memperhatikan dan mengarahkan setiap perpindahan
pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.
Tindakan Tertentu
pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.
Tindakan Tertentu
Aspek
ini tentunya dikaitkan dengan casting yang diberikan kepada seseorang. Casting
di
sini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.
Ekspresi Wajah
sini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.
Ekspresi Wajah
Unsur
ini sering berkaitan dengan penjiwaan terhadap naskah. Wajah merupakan cermin
bagi jiwa seseorang. Konsep inilah yang mendasari aspek ini harus diperhatikan
betul oleh sutradara. Terutama
untuk genre film drama, unsur ekspresi wajah memegang peran penting. Banyak
juga film action semacam Gladiator menajamkan aspek ekspresi wajah. Shot-shot
close up yang indah dan pas dapat mewakili perasaan sang tokoh dalam sebuah
film. Contoh kecil sering ditampilkan dalam perfilman India. Jika seseorang
sedang jatuh cinta ukuran gambar big close up bergantian antara pria dan
wanita. Namun sutradara juga
harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.
Hubungan Pandang
harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.
Hubungan Pandang
Hampir
sama dengan ekspresi wajah, hubungan pandang di sini diartikan adanya kaitan
psikologis antara penonton dan yang ditonton. Untuk membuat shot-shot-nya,
biasanya sutradara selalu
memberikan arahan kepada pemain film agar menganggap kamera sebagai mata
penonton. Dengan cara seperti ini, biasanya kaidah hubungan pandang ini akan
tercapai. Dengan mengibaratkan kamera sebagai mata penonton, berarti pemain
harus berlakon sebaik mungkin untuk berkomunikasi dengan penonton lewat lensa
kamera. Dengan demikian, apa pun yang akan dilakonkan pemain seolah-olah ada
yang mengawasi, yakni kamera sebagai representasi dari penonton.
Dengan
menguasai Rumus 5 C dan Visual Element
secara baik dan benar bisa dipastikan seorang sutradara akan mampu membuat film menjadi tontonan menarik dan
munculnya situasi komunikatif antara tontonan dan penonton. Di sinilah alasan
mengapa sebuah film dianggap sebagai produk komunikasi massa periodik.
Ide, Cerita dan Skenario (Arini Kurnia)
Ide
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan
gagasan atau cita-cita. Ide dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam
menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya ide
tentang sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama ide
belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata,
maka ide masih berada di dalam pikiran.
Ide yang sudah dinyatakan menjadi
suatu perbuatan adalah karya cipta. Untuk mengubah ide menjadi karya cipta dilakukan
serangkaian proses berpikir yang logis dan seringkali realisasinya memerlukan
usaha yang terus menerus sehingga antara ide awal yang muncul di pikiran dan
karya cipta satu sama lain saling bersesuaian sebagai kenyataan. Alam Pikiran
Yunani menjangkau pengertian Ide Ideal atau Ide Sempurna. Dari pemikiran
tentang yang sempurna itu lahirlah gagasan-gagaan tentang ketuhanan sebagai Ide
Ideal Tertinggi yang dapat dipikirkan dan dirasakan oleh manusia keberadaannya
yaitu tentang Pencipta Makhluk atau Tuhan.
Cerita
Cerita adalah penuturan tentang suatu
kejadian.Dari cerita tersebut , kita dapat mengetahui di mana , bangaimana ,
dan apa yang dialami oleh pelaku cerita dari awal sampai akhir , Pelaku cerita
dapat manusia , binatang ,maupun , manusia.
Pada zaman dahulu cerita dapat
dituturkan secara lisan . Di tempat pesta biasanya diramaikan oleh tukang
cerita . Fungsinya sebagai penghibur . berfungsi sama demgan penyanyi dan
penari.
Karangan pendek yang berbentuk prosa
yang mengisahkan tentang suatu peristiwa disajikan secara singkat yang bertema
anak-anak disebut cerita pendek anak-anak.
Skenario
Skenario adalah blue print sebuah
film. Kalau seorang arsitek membuat sebuah rumah, maka dia akan menuangkan
bentuk cetak birunya pada sebuah kertas, sebelum rumah itu dirancang. Ketika pembuatan
desain semua diperhitungkan. Tiap ruang dirancang berikut ukurannya, lalu
setelah baru dibuat. Yup skenario pun begitu.
Kita mungkin tidak bisa membuat
sebuah film kalau tidak ada rancang bangun ceritanya. Makanya pembuatan awal
sebuah film ya skenario. Disana ada rancang alur cerita, kisah yang bergulir,
alur, karaketer, tokoh, percakapan, dan deskripsi tempat. Dari skenariolah
sutradara tahu tempat lokasi yang cocok dengan skenario.
Macam macam skenario :
1.
Skenario untuk membuat film
Skenario ini jenis yang umum dikenal
orang. Gunanya tentu saja untuk membuat film layar lebar. Pembuatannya dipusatkan
pada deskripsi ekspresi pemain dan alur yang lebih cepat. Biasanya skenario film berdurasi 90 menit, dan harus selesai. Untuk
membuat skenario film tidak bisa langsung jadi. Biasanya akan ada rapat untuk
mendiskusikan apakah skenario ini bisa diesksekusikan dilapangan atau tidak.
2.
Skenario untuk membuat sinetron
Skenario ini disebut juga cerita
bersambung, karena dikhususkan untuk sinetron. Biasanya karena kebanyakan
skenario ini kejar tayang tidak mengalami revisi dan uji kelayakan, layaknya
skenario film.
3.
Skenario untuk membuat sitkom
Skenario yang satu ini tehniknya
tidak jauh berbeda tehniknya dengan membuat skenario biasa. Namun seorang
sutradara dan penulis skenario sitkom terkenal bernama Aris Nurgraha,
mengembangkan caranya sendiri untuk membuat sitkom. Dia membuat sitkom tersebut
tiga sampai empa babak. Tiap satu babak berakhir terputus oleh iklan dan
berlanjut dengan kisah yang baru dan berjalan lagi. Setiap pemutusan adegan dibuat
lucu dan dramatis, namun tidak membuat berhenti untuk menontonnya.
4.
Skenario untuk membuat iklan
Untuk membuat skenario yang satu ini,
tentu saja berbeda. Karena bentuknya
untuk iklan dan durasinya sangat pendek.
Skenario iklan biasa disebut skrip iklan. Jadi, jangan salah. Semua tayangan
iklan yang sering kita tonton ditayangkan televisi kita buat juga berdasarkan
skenario.
5.
Skenario untuk membuat video clip
Senang menontong video clip. Pasti senang
dong. Apalagi dalam video clip tersebut ada ceritanya. Seperti video clip
micheal jackson dengan judul lagunya Triller, yang isi video clipnya para zombi
bangkit dari kubur. Video clip
kebanyakan berkisah lewat gambar dan acting pemain, maka itu skenarionya
pun tidak neko neko. Biasanya hanya
berupa sinopsis saja, selebihnya adalah ranah sutradara yang mengaturnya.
6.
Skenario untuk membuat film animasi.
Suka film animasi ? bahkan terkagum
kagum bagaimana membuat sebuah media gambar yang bergerak dengan kisah yang
apik. Yang satu ini bisa dikategorikan sebagai fillm, namun namanya film
animasi. Yang mungkin jadi pertanyaannya adalah mana yang dulu dibuat, gambar
atau animasinya dahulu atau skenarionya dahulu. Yang benar adalah skenarionya
dahulu. Setelah itu baru pada dubing
suara baru setelah itu gambar. Gambar menyesuaikan dengan pengisi suara. Kebayangkan,
ketika skenario dibuat, para dubber harus benar benar memahami karakter suara
yang dibawakan dan bisa membawakannya dengan baik.
7.
Skenario untuk membuat film pendek
Film pendek dibuat berdurasi 10-20
menit. Umumnya hanya 15 menit. Dalam waktu pendek itu kisah harus terjalin
dengan kuat. Bayangkan, bagaimana membuat sebuah cerit a yang padu dan memiliki
jalinan kuat dalam waktu 15 menit ? seringkali di internet diiklankan lomba
membuat film pendek. Banyak orang yang berpartisipasi. Macam macam kisah yang
bergulir. Yang seringkali mengadakan lomba skenario film pendek adalah LA
Light. Merk rokok yang satu ini memang sedang gencar gencarnya menghidupkan
kreativitas, baik dalam berfilm maupun dalam bermusik.
Tahapan Produksi Film Pra-Produksi :
1. Script (Skenario)
2. Casting
3. Budgeting
Istilah-istilah yang biasa digunakan dalam penulisan Skenario
Fade in : Ketika adegan baru dimulai pertama kali.
Fade out : Ketika sebuah babak
berakhir dan kemudian diselingi oleh iklan sebelum memulai babak baru. Atau
ketika sebuah episode berakhir dan akan bersambung ke episode selanjutnya.
Cut to : Perpindahan dari satu adegan
ke adegan lain secara berkesinambungan.
Dissolve to : mirip dengan cut to
tapi dipergunakan untuk adegan masa lalu (flashback) yang memiliki durasi cukup
panjang.
V.O (voice over) : hanya terdengar
suara. Biasanya digunakan untuk narasi atau untuk suara dalam hati si tokoh.
O.S (Off scene) : suara pemain
terdengar lebih dahulu sebelum sosoknya sendiri muncul.
Flashback : adegan masa lalu.
Flashback ini bisa berlangsung sebentar, bisa juga agak lama.
POV : point of view, yaitu melihat
sesuatu dari sudut pandang seorang tokoh
VFX (visual effect dan SFX) : sound effect. VFX dan SFX ini
biasa dipakai jika ada adehgan yang sulit divisualisasikan.
Progress jika naskah langsug ke
stasiun TV
- Penulisan skenario
- Diajukan ke bagian program
- Dipreview lalu dikembalikan untuk
revisi
- Revisi oleh penulis
- Disetujui bagian program TV
- Diserahkan ke PH
- Siap Shooting
Berikut ini adalah langkah-langkah sederhana
membuat skenario film:
1. IDE CERITA
Film itu sebuah cerita bergambar dan
bersuara. Karena sebuah cerita, jadi kamu harus punya cerita yang dianggap
menarik untuk difilmkan. Dari mana datangnya ide? Ide banyak. Ada di mana-mana.
Tinggal kamu buka lebar-lebar semua indera kamu. Kamu bakal mendengar, merasa,
melihat, mengecap, dan mencium ide.
2. SIAPKAN SINOPSISNYA
Sekalipun film dan cerpen atau novel
sama-sama sebuah cerita, tetapi ada perbedaan. Perbedaannya pada medium yang
digunakan. Seperti disebutkan pada nomor satu, film menggunakan medium gambar
dan suara. Sedangkan cerpen dan novel menggunakan medium teks.
Sementara sinopsis sendiri memiliki
arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita akan
kesusahan bikin skenario bila kita tidak tahu sinopsis ceritanya. Akan sama
sulitnya kita akan bikin sinopsis bila tidak punya ide cerita.
Bila yang kamu bikin bukan film lepas
(FTV/layar lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global,
kamu juga harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail
dibanding dengan sinopsis global.
3. BIKIN LOGLINE/PREMIS
Logline atau premis bertujuan untuk
memperjelas film apa yang kamu buat. Logline sejenis iklan. Logline yang bagus
akan menarik orang untuk menonton film yang kita buat. Agar mudah membuat
logline, Richard Krevolin memberikan pola kalimat sebagai berikut: bagaimana
jika…… dan kemudian……. Contoh: bagaimana jika orang yang kamu siksa adalah
orang yang akan menolong kamu dan kamu tidak tahu. Kalimatnya dibikin sederhana
menjadi: yang kamu siksa adalah penolongmu yang tidak kamu ketahui.
Untuk lebih jelas tentang logline,
kamu bisa melihat cover-cover film. Di sana ada kalimat-kalimat yang menarik.
Itulah logline atau premis.
4. TREATMEN
Treatmen ini pembabakan. Sebuah film
umumnya tiga babak. Sinopsis itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini. Babak
pertama sebagai pengenalan seting, tokoh, dan awal masalahnya. Babak kedua
sebagai bagian berkecamuknya masalah. Babak ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang tiga babak ini disebut dengan
struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan
babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang
sembilan babak ini terdiri dari:
· Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
· babak
2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
· Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis,
atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain pada babak 1.
· Babak 4: protagonis dan antagonis
· Babab
5: protagonis berusaha keluar dari masalah
· Babak
6: protagonis salah mengambil jalan
· Babak
7: protagonis mendapat pertolongan
· Babak
8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
· Babak
9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya
5. OUTLINE SCENE/SCENE PLOT
Sekarang saatnya membuat outline
scene/scene plot. Outline scene/scene plot adalah rencana peristiwa-peristiwa
yang akan diambil (disyut). Pembuatan outline scene/scene plot akan mempermudah
pembuatan skenario.
PERTANYAAN PENTING
Ada 7 pertanyaan penting yang harus
dijawab penulis skenario agar skenarionya bagus. Tujuh pertanyaan itu ialah:
1. Siapa tokoh utamanya?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh
utama?
3. Siapa antaginisnya? Apa hal yang
menghalangi tercapainya keinginan protagonis?
4. Bagaimana protagonis bisa mencapai
keinginannya?
5. Apa pesan yang ingin kamu
sampaikan dalam cerita itu?
6. Bagaimana kamu nyeritain cerita
itu?
7. Bagaimana perubahan nasib
tokoh-tokohnya?
Langganan:
Komentar (Atom)
