Tentang Kami...

BANG ADHA
Blog ini merupakan wadah belajar bersama. KPI semester 7 saat ini sedang mendalami mata kuliah Teknik Produksi TV & Teknik Pembuatan Film Dakwah dibawah bimbingan dosen kami Bapak Saeful Adha, beliau biasa kami panggil Bang Adha.. Semoga apa yang kami share disini bisa bermanfaat bagi teman2 semua. ^_^

Manajemen Produksi (Asep Jauhari)

Tata, Artistik & Editing (Siti Jamilah) Part 1

Seni (Art)
A. Definisi
Sebenarnya hingga saat ini belum ditemukan definisi dari seni yang mutlak. Namun paling tidak ada 3 definisi yang saya ambil karena mendekati.
  1. Seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk menyenangkan
  2. Seni, merupakan emosi yang menjelma menjadi suatu ciptaan yang menyenangkan
  3. Seni, hasil getaran jiwa dan keselarasan dari perasaan serta fikiran yang mewujudkan sesuatu yang indah.

Kamera dan DOP (Director of Photography), (Imam Haditya)

Penyutradaraan (Seno Wikantyoso)




Mungkin untuk sebagian orang pengertia sutradara sangatlah simple, yaitu sebagai seorang yang membuat film.
Sutradara juga adalah orang yang pertama kali disebutkan bila film itu bagus atau tidak, cth : "ni film jelek bgt, siapa sih sutradaranya?" atau "gila bgt ni film, keren abis, sutaradaranya top dah".

Namun ternyata tidak sesimple itu, saya menumukan dan mempelajari beberapa pengertian sutradara, ada beberapa pengertian sutradara diantaranya:
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda S. : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis ( bila dalam teater ).

Apapun itu kesimpulannya adalah sutradara adalah orang yang bertanggung jawab pada hasil karya berupa pertunjukan / audio visual yang mengandung visi misi yang ingin disampaikan secara teknik / artistik melalui media yang dianggap bermanfaat secara positif bagi khalayak banyak ataupun bagi dirinya sendiri.

Beberapa istilah sutradara:
1. Sutradara ( Film & Televisi )
2. Pengarah Acara ( Televisi )
3. Program Director ( Televisi )
4. Producer Director ( Televisi & Film )

Penyutradaraan Sutradara

Sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat. Di lapangan seorang sutradara
berperan sebagai manajer, kreator, dan sekaligus inspirator bagi anggota tim produksi dan para pemeran. Peran yang sedemikian besar mengharuskan sutradara memahami benar konsep cerita, memahami situasi lingkungan maupun psikologis para pelibat produksi, dan juga harus memahami bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan semua pelibat produksi. Ibarat tubuh manusia, sutradara adalah otaknya, dan yang lain adalah seluruh anggota badan. Otak memerlukan anggota badan untuk mewujudkan gagasan, badan memerlukan otak untuk mengendalikan.


1. Tugas Sutradara

Menurut sutradara berbakat, Harry Suharyadi, tugas seorang sutradara adalah menerjemahkan atau menginterpretasikan sebuah skenario dalam bentuk imaji/gambar hidup dan suara. Pada umumnya, seorang sutradara tidak merangkap sebagai produser, meskipun di Amerika cukup banyak sutradara yang merangkap produser seperti beberapa kali Kevin Costner merangkap sutradara sekaligus produser.
Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni:
1) praproduksi,
2) produksi atau shooting,
3) pascaproduksi.

Tugas sutradara adalah pada tahap produksi. Namun bukan berarti sutradara tidak perlu mengetahui aspek praproduksi dan pasca produksi. Pemahaman praproduksi akan mencegah sikap arogan dan tutuntutan yang berlebih atas peralatan dan aspek-aspek penunjang produksi yang notabene merupakan tugas tim praproduksi. Misalnya, sutradara tidak terlalu menuntut disediakan pemeran yang honornya mahal apabila ia menyadari bahwa tim budgeting tidak menganggarkan dana berlebih untuk honor pemeran. Pemahaman pascaproduksi akan mencegah sutradara menginstruksikan pengambilan gambar dengan komposisi atau enggel yang penyambungannya mustahil dilakukan oleh editor.

2. Rumus 5-C
           
Sebelum seorang sutradara mengarahkan semua pemain dalam sebuah produksi, ada baiknya sutradara memiliki kepekaan terhadap Rumus 5 –C, yakni close up (pengambilan jarak dekat), camera angle (sudut pengambilan kamera), composition (komposisi), cutting (pergantian gambar), dan continuity (persambungan gambar-gambar) (Hartoko 1997: 17). Kelima unsur ini harus diperhatikan oleh sutradara berkaitan dengan tugasnya nanti di lapangan.

Close Up

Unsur ini diartikan sebagai pengambilan jarak dekat. Sebelum produksi (shooting d I lapangan) harus mempelajari dahulu skenario, lalu diuraikan dalam bentuk shooting script, yakni keterangan rinci mengenai shot-shot yang harus dijalankan juru kamera. Terhadap unsur close up, dia harus betul-betul memperhatikan, terutama berkaitan dengan emosi tokohnya. Gejolak emosi, peradaban gundah sering harus diwakili dalam shot-shot close up. Bagi seorang kritikus film, sering unsur menjadi poin tersendiri ketika menilai sebuah film. Untuk itu, unsur ini harus menjadi perhatian sutradara.




Camera Angle

Unsur ini sangat penting untuk memperlihatkan efek apa yang harus muncul dari setiap scene (adegan). Jika unsur ini diabaikan bisa dipastikan film yang muncul cenderung monoton dan membosankan sebab camera angle dan close up sebagai unsur visualisasi yang menjadi bahan mentah dan harus diolah secermat mungkin. Harry mencontohkan, untuk film-film opera sabun sering ada pembagian kerja antara pengambilan gambar yang long shot d a n close up untuk kemudian diolah dalam proses editingnya. Variasi pengambilan gambar dengan camera angle dapat mengayakan unsur filmis sehingga film terasa menarik dan memaksa penonton untuk mengikutinya terus.

Composition

Unsur ini berkaitan erat dengan bagaimana membagi ruang gambar dan pengisiannya untuk mencapai keseimbangan dalam pandangan. Composition merupakan unsur visualisasi yang akan memberikan makna keindahan terhadap suatu film. Pandangan mata penonton sering harus dituntun oleh komposisi gambar yang menarik. Tidak jarang para peresensi film memberikan penilaian terhadap unsur ini karena unsur inilah yang akan menjadi pertaruhan mata penontonnya. Jika aspek ini diabaikan, jangan harap penonton akan menilai film ini indah dan enak ditonton. Seorang sutradara harus mampu mengendalikan aspek ini kepada juru kamera agar tetap menjadi komposisi secara proporsional berdasarkan asas komposisi.

Cutting

Diartikan sebagai pergantian gambar dari satu scene ke scene lainnya. Cutting termasuk dalam aspek pikturisasi yang berkaitan dengan unsur penceritaan dalam urutan gambar-gambar. Sutradara harus mampu memainkan imajinasinya ketika menangani proses shooting. Imajinasi yang berjalan tentunya bagaimana nantinya jika potongan-potongan scene ini diedit dan ditayangkan di monitor.

Continuity

Unsur terakhir yang harus diperhatikan sutradara adalah continuity, yakni unsure persambungan gambar-gambar. Sejak awal, sutradara bisa memproyeksikan pengadegan dari satu scene ke scene lainnya. Unsur ini tentunya sangat berkaitan erat dengan materi cerita. Sering penonton merasa film yang ditontonnya loncat ke sana atau ke mari tidak karuan sehingga membuat bingung. Terhadap kasus ini karena sutradara tidak mampu memperhatikan aspek kontinuitas dari film yang digarapnya.

3. Unsur Visual (visual element)

Selanjutnya masih dalam tahap persiapan penyutradaraan, seorang sutradara juga harus memahami unsur-unsur visual (visual element) yang sangat penting dalam mengarahkan seluruh krunya. Ada enam unsur visual yang harus diperhatikan, sikap pose (posture), gerakan anggota badan untuk memperjelas (gesture), perpindahan tempat (movement), tindakan/perbuatan tertentu (purpose action), ekspresi wajah (facial expression), dan hubungan pandang (eye contact) (Hartoko, 1997:25).

Sikap/Pose

Jika anda mengarahkan para pemain dalam film yang anda buat, hal pertama yang menjadi arahan adalah sikap/pose (posture) pemainnya. Ini sangat erat kaitannya dengan penampilan pemain di depan kamera. Dengan monitor yang tersedia, sutradara harus mampu memperhatikan pose pemainnya secara wajar dan memenuhi kaidah dramaturgi. Sebelum pose sesuai dengan tuntutan skenario usahakan sutradara jangan putus asa terus mencoba. Apalagi untuk kalangan indie yang cenderung pemainnya masih baru atau belum pernah main sama sekali (tetapi gratis).

Gerakan Anggota Badan

Sesuai dengan shooting script, tentunya seorang atau beberapa pemain harus menggerakkan anggota tubuhnya. Namun, gesture yang mereka mainkan harus betul-betul kontekstual. Artinya, harus betul-betul nyambung dengan gerakan anggota tubuh sebelumnya. Misalnya, setelah seorang pemain minum air dari gelas tentunya gerakan berikutnya mengembalikan gelas tersebut dengan baik. Jangan sampai ada gerakan-gerakan tubuh yang secara filmis dapat menimbulkan kejanggalan.

Perpindahan Tempat

Seorang Sutradara dengan jeli akan memperhatikan dan mengarahkan setiap perpindahan
pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.

Tindakan Tertentu

Aspek ini tentunya dikaitkan dengan casting yang diberikan kepada seseorang. Casting di
sini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.

Ekspresi Wajah

Unsur ini sering berkaitan dengan penjiwaan terhadap naskah. Wajah merupakan cermin bagi jiwa seseorang. Konsep inilah yang mendasari aspek ini harus diperhatikan betul oleh sutradara. Terutama untuk genre film drama, unsur ekspresi wajah memegang peran penting. Banyak juga film action semacam Gladiator menajamkan aspek ekspresi wajah. Shot-shot close up yang indah dan pas dapat mewakili perasaan sang tokoh dalam sebuah film. Contoh kecil sering ditampilkan dalam perfilman India. Jika seseorang sedang jatuh cinta ukuran gambar big close up bergantian antara pria dan wanita. Namun sutradara juga
harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.

Hubungan Pandang

Hampir sama dengan ekspresi wajah, hubungan pandang di sini diartikan adanya kaitan psikologis antara penonton dan yang ditonton. Untuk membuat shot-shot-nya, biasanya sutradara selalu memberikan arahan kepada pemain film agar menganggap kamera sebagai mata penonton. Dengan cara seperti ini, biasanya kaidah hubungan pandang ini akan tercapai. Dengan mengibaratkan kamera sebagai mata penonton, berarti pemain harus berlakon sebaik mungkin untuk berkomunikasi dengan penonton lewat lensa kamera. Dengan demikian, apa pun yang akan dilakonkan pemain seolah-olah ada yang mengawasi, yakni kamera sebagai representasi dari penonton.

Dengan menguasai Rumus 5 C dan Visual Element secara baik dan benar bisa dipastikan seorang sutradara akan mampu membuat film menjadi tontonan menarik dan munculnya situasi komunikatif antara tontonan dan penonton. Di sinilah alasan mengapa sebuah film dianggap sebagai produk komunikasi massa periodik.

Ide, Cerita dan Skenario (Arini Kurnia)


Ide
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan gagasan atau cita-cita. Ide dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya ide tentang sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama ide belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata, maka ide masih berada di dalam pikiran.
Ide yang sudah dinyatakan menjadi suatu perbuatan adalah karya cipta. Untuk mengubah ide menjadi karya cipta dilakukan serangkaian proses berpikir yang logis dan seringkali realisasinya memerlukan usaha yang terus menerus sehingga antara ide awal yang muncul di pikiran dan karya cipta satu sama lain saling bersesuaian sebagai kenyataan. Alam Pikiran Yunani menjangkau pengertian Ide Ideal atau Ide Sempurna. Dari pemikiran tentang yang sempurna itu lahirlah gagasan-gagaan tentang ketuhanan sebagai Ide Ideal Tertinggi yang dapat dipikirkan dan dirasakan oleh manusia keberadaannya yaitu tentang Pencipta Makhluk atau Tuhan.

Cerita
Cerita adalah penuturan tentang suatu kejadian.Dari cerita tersebut , kita dapat mengetahui di mana , bangaimana , dan apa yang dialami oleh pelaku cerita dari awal sampai akhir , Pelaku cerita dapat manusia , binatang ,maupun , manusia.
Pada zaman dahulu cerita dapat dituturkan secara lisan . Di tempat pesta biasanya diramaikan oleh tukang cerita . Fungsinya sebagai penghibur . berfungsi sama demgan penyanyi dan penari.
Karangan pendek yang berbentuk prosa yang mengisahkan tentang suatu peristiwa disajikan secara singkat yang bertema anak-anak disebut cerita pendek anak-anak.


Skenario
Skenario adalah blue print sebuah film. Kalau seorang arsitek membuat sebuah rumah, maka dia akan menuangkan bentuk cetak birunya pada sebuah kertas, sebelum rumah itu dirancang. Ketika pembuatan desain semua diperhitungkan. Tiap ruang dirancang berikut ukurannya, lalu setelah baru dibuat. Yup skenario pun begitu.
Kita mungkin tidak bisa membuat sebuah film kalau tidak ada rancang bangun ceritanya. Makanya pembuatan awal sebuah film ya skenario. Disana ada rancang alur cerita, kisah yang bergulir, alur, karaketer, tokoh, percakapan, dan deskripsi tempat. Dari skenariolah sutradara tahu tempat lokasi yang cocok dengan skenario.
Macam macam skenario :
1.      Skenario untuk membuat film
Skenario ini jenis yang umum dikenal orang. Gunanya tentu saja untuk membuat film layar lebar. Pembuatannya dipusatkan pada deskripsi ekspresi pemain dan alur yang lebih cepat. Biasanya skenario  film berdurasi 90 menit, dan harus selesai. Untuk membuat skenario film tidak bisa langsung jadi. Biasanya akan ada rapat untuk mendiskusikan apakah skenario ini bisa diesksekusikan dilapangan atau tidak.

2.      Skenario untuk membuat sinetron
Skenario ini disebut juga cerita bersambung, karena dikhususkan untuk sinetron. Biasanya karena kebanyakan skenario ini kejar tayang tidak mengalami revisi dan uji kelayakan, layaknya skenario film.

3.      Skenario untuk membuat sitkom
Skenario yang satu ini tehniknya tidak jauh berbeda tehniknya dengan membuat skenario biasa. Namun seorang sutradara dan penulis skenario sitkom terkenal bernama Aris Nurgraha, mengembangkan caranya sendiri untuk membuat sitkom. Dia membuat sitkom tersebut tiga sampai empa babak. Tiap satu babak berakhir terputus oleh iklan dan berlanjut dengan kisah yang baru dan berjalan lagi. Setiap pemutusan adegan dibuat lucu dan dramatis, namun tidak membuat berhenti untuk menontonnya.

4.      Skenario untuk membuat iklan
Untuk membuat skenario yang satu ini, tentu saja berbeda.  Karena bentuknya untuk iklan dan durasinya sangat pendek.  Skenario iklan biasa disebut skrip iklan. Jadi, jangan salah. Semua tayangan iklan yang sering kita tonton ditayangkan televisi kita buat juga berdasarkan skenario.

5.      Skenario untuk membuat video clip
Senang menontong video clip. Pasti senang dong. Apalagi dalam video clip tersebut ada ceritanya. Seperti video clip micheal jackson dengan judul lagunya Triller, yang isi video clipnya para zombi bangkit dari kubur.  Video clip kebanyakan berkisah lewat gambar dan acting pemain, maka itu skenarionya pun  tidak neko neko. Biasanya hanya berupa sinopsis saja, selebihnya adalah ranah sutradara yang mengaturnya.

6.      Skenario untuk membuat film animasi.
Suka film animasi ? bahkan terkagum kagum bagaimana membuat sebuah media gambar yang bergerak dengan kisah yang apik. Yang satu ini bisa dikategorikan sebagai fillm, namun namanya film animasi. Yang mungkin jadi pertanyaannya adalah mana yang dulu dibuat, gambar atau animasinya dahulu atau skenarionya dahulu. Yang benar adalah skenarionya dahulu.  Setelah itu baru pada dubing suara baru setelah itu gambar. Gambar menyesuaikan dengan pengisi suara. Kebayangkan, ketika skenario dibuat, para dubber harus benar benar memahami karakter suara yang dibawakan dan bisa membawakannya dengan baik.

7.      Skenario untuk membuat film pendek
Film pendek dibuat berdurasi 10-20 menit. Umumnya hanya 15 menit. Dalam waktu pendek itu kisah harus terjalin dengan kuat. Bayangkan, bagaimana membuat sebuah cerit a yang padu dan memiliki jalinan kuat dalam waktu 15 menit ? seringkali di internet diiklankan lomba membuat film pendek. Banyak orang yang berpartisipasi. Macam macam kisah yang bergulir. Yang seringkali mengadakan lomba skenario film pendek adalah LA Light. Merk rokok yang satu ini memang sedang gencar gencarnya menghidupkan kreativitas, baik dalam berfilm maupun dalam bermusik.

Tahapan Produksi Film  Pra-Produksi :
1. Script (Skenario)
2. Casting
3. Budgeting

Istilah-istilah yang biasa digunakan dalam penulisan Skenario
Fade in            : Ketika adegan baru dimulai pertama kali.
Fade out : Ketika sebuah babak berakhir dan kemudian diselingi oleh iklan sebelum memulai babak baru. Atau ketika sebuah episode berakhir dan akan bersambung ke episode selanjutnya.
Cut to : Perpindahan dari satu adegan ke adegan lain secara berkesinambungan.
Dissolve to : mirip dengan cut to tapi dipergunakan untuk adegan masa lalu (flashback) yang memiliki durasi cukup panjang.
V.O (voice over) : hanya terdengar suara. Biasanya digunakan untuk narasi atau untuk suara dalam hati si tokoh.
O.S (Off scene) : suara pemain terdengar lebih dahulu sebelum sosoknya sendiri muncul.
Flashback : adegan masa lalu. Flashback ini bisa berlangsung sebentar, bisa juga agak lama.
POV : point of view, yaitu melihat sesuatu dari sudut pandang seorang tokoh
VFX (visual effect  dan SFX) : sound effect. VFX dan SFX ini biasa dipakai jika ada adehgan yang sulit divisualisasikan.
Progress jika naskah langsug ke stasiun TV
- Penulisan skenario
- Diajukan ke bagian program
- Dipreview lalu dikembalikan untuk revisi
- Revisi oleh penulis
- Disetujui bagian program TV
- Diserahkan ke PH
- Siap Shooting


Berikut ini adalah langkah-langkah sederhana membuat skenario film:
1. IDE CERITA
Film itu sebuah cerita bergambar dan bersuara. Karena sebuah cerita, jadi kamu harus punya cerita yang dianggap menarik untuk difilmkan. Dari mana datangnya ide? Ide banyak. Ada di mana-mana. Tinggal kamu buka lebar-lebar semua indera kamu. Kamu bakal mendengar, merasa, melihat, mengecap, dan mencium ide.

2. SIAPKAN SINOPSISNYA
Sekalipun film dan cerpen atau novel sama-sama sebuah cerita, tetapi ada perbedaan. Perbedaannya pada medium yang digunakan. Seperti disebutkan pada nomor satu, film menggunakan medium gambar dan suara. Sedangkan cerpen dan novel menggunakan medium teks.
Sementara sinopsis sendiri memiliki arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita akan kesusahan bikin skenario bila kita tidak tahu sinopsis ceritanya. Akan sama sulitnya kita akan bikin sinopsis bila tidak punya ide cerita.
Bila yang kamu bikin bukan film lepas (FTV/layar lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global, kamu juga harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail dibanding dengan sinopsis global.

3. BIKIN LOGLINE/PREMIS
Logline atau premis bertujuan untuk memperjelas film apa yang kamu buat. Logline sejenis iklan. Logline yang bagus akan menarik orang untuk menonton film yang kita buat. Agar mudah membuat logline, Richard Krevolin memberikan pola kalimat sebagai berikut: bagaimana jika…… dan kemudian……. Contoh: bagaimana jika orang yang kamu siksa adalah orang yang akan menolong kamu dan kamu tidak tahu. Kalimatnya dibikin sederhana menjadi: yang kamu siksa adalah penolongmu yang tidak kamu ketahui.
Untuk lebih jelas tentang logline, kamu bisa melihat cover-cover film. Di sana ada kalimat-kalimat yang menarik. Itulah logline atau premis.

4. TREATMEN
Treatmen ini pembabakan. Sebuah film umumnya tiga babak. Sinopsis itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini. Babak pertama sebagai pengenalan seting, tokoh, dan awal masalahnya. Babak kedua sebagai bagian berkecamuknya masalah. Babak ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
  · Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
  · babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
  · Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain    pada babak 1.
  · Babak 4: protagonis dan antagonis
  · Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
  · Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
  · Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
  · Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
  · Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya



5. OUTLINE SCENE/SCENE PLOT
Sekarang saatnya membuat outline scene/scene plot. Outline scene/scene plot adalah rencana peristiwa-peristiwa yang akan diambil (disyut). Pembuatan outline scene/scene plot akan mempermudah pembuatan skenario.


PERTANYAAN PENTING
Ada 7 pertanyaan penting yang harus dijawab penulis skenario agar skenarionya bagus. Tujuh pertanyaan itu ialah:

1. Siapa tokoh utamanya?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?
3. Siapa antaginisnya? Apa hal yang menghalangi tercapainya keinginan protagonis?
4. Bagaimana protagonis bisa mencapai keinginannya?
5. Apa pesan yang ingin kamu sampaikan dalam cerita itu?
6. Bagaimana kamu nyeritain cerita itu?
7. Bagaimana perubahan nasib tokoh-tokohnya?