Film Statement "Ada Apa di Balik Galuga? (Soal Sampah di Bogor)

Siti Jamilah - KPI FAI UIKA

Sampah adalah permasalahan yang tidak ada habisnya untuk dibahas, termasuk persoalan sampah di Bogor. Saat ini pemerintah Bogor sedang bergelut untuk menyelesaikan permasalahan sampah. Kegagalan Pemerintah kota Bogor meraih penghargaan Adipura tahun 2012 ini mengindikasikan bahwa Bogor belum berhasil menyelesaikan permasalahan kebersihan, termasuk masalah sampah.

Seluruh sampah di Bogor, baik kabupaten maupun kotamadya diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yg berada di Rt. 08/05, Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kec. Bungbulang. TPA ini dikelola oleh dinas kebersihan pemkot Bogor dan pemkab Bogor. TPA Galuga berada diatas lahan seluas +17 ha ini diperoleh melalui pembebasan lahan tanah warga sejak tahun 1986. Area pengelolaan ini dibagi untuk pengelolan sampah Kota dan Kabupaten. Untuk sampah Kota Bogor luas area yang digunakan adalah 14 ha, sedangkan untuk sampah kabupaten luas lahan yang digunakan adalah 2,6 ha. Pembagian area ini berdasarkan volume sampah yang datang dimana sampah dari kota Bogor jauh lebih banyak daripada sampah yang berasal dari kabupaten.


Sampah-sampah yang berada di Galuga diangkut oleh mobil pengangkut sampah yang disediakan oleh Pemkot dan Pemkab Bogor. Saat ini ada sekita 91 mobil pengangkut sampah untuk daerah kotamadya dan 64 mobil pengangkut sampah untuk daerah kabupaten. Jumlah ini disesuaikan dengan volume sampah yang diangkut, dimana kotamadya lebih besar volumenya dibandingkan kabupaten, padahal kawasan kabupaten lebih luas dibandingkan kota, namun intensitas kegiatan pembuangan sampah ternyata lebih besar di kota Bogor.

Bau yang menusuk hidung akan Anda rasakan saat berada di area TPA ini, namun warga sekitar seakan sudah bersahabat dengan aroma tak sedap disini. Kotor, kumuh, jorok, lalat yang berterbangan, aroma menyengat khas sampah tentunya melekat kuat dengan TPA Galuga, namun siapa sangka tumpukkan sampah ini bisa menjadi tambang emas bagi segolongan orang yang menggantungkan hidupnya dengan sampah. Mereka meraup rizki dari gundukkan sampah yang kita anggap tak berguna. Lain halnya dengan mereka, sampah seakan emas berharga, bagaimana tidak? Ketika mobil pengangkut sampah datang, mereka bersemangat mengejarnya, seakan mengejar rizki mereka. Senyum, gelak tawa, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka tatkala mobil sampah menumpahkan isi baknya.

Galuga yang dianggap tempat jorok, kotor, kumuh dan tempat berkumpulnya penyakit ternyata menyimpan sisi lain yang membawa kebahagian bagi segolongan orang. Inilah hidup, dimana positif dan negatif, baik dan buruk selalu berdampingan..

oleh: Siti Jamilah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar