Pengertian Sutradara dan Penyutradaraan
Mungkin untuk sebagian orang pengertia sutradara
sangatlah simple, yaitu sebagai seorang
yang membuat film.
Sutradara juga adalah orang yang pertama kali disebutkan bila film itu bagus atau tidak, cth : "ni film jelek bgt, siapa sih sutradaranya?" atau "gila bgt ni film, keren abis, sutaradaranya top dah".
Sutradara juga adalah orang yang pertama kali disebutkan bila film itu bagus atau tidak, cth : "ni film jelek bgt, siapa sih sutradaranya?" atau "gila bgt ni film, keren abis, sutaradaranya top dah".
Namun ternyata tidak sesimple itu, saya menumukan dan
mempelajari beberapa pengertian sutradara, ada beberapa pengertian sutradara
diantaranya:
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda S. : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis ( bila dalam teater ).
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda S. : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis ( bila dalam teater ).
Apapun itu kesimpulannya adalah sutradara adalah orang
yang bertanggung jawab pada hasil karya berupa pertunjukan / audio visual yang
mengandung visi misi yang ingin disampaikan secara teknik / artistik melalui
media yang dianggap bermanfaat secara positif bagi khalayak banyak ataupun bagi
dirinya sendiri.
Beberapa istilah sutradara:
1. Sutradara ( Film & Televisi )
2. Pengarah Acara ( Televisi )
3. Program Director ( Televisi )
4. Producer Director ( Televisi & Film )
Penyutradaraan Sutradara
Beberapa istilah sutradara:
1. Sutradara ( Film & Televisi )
2. Pengarah Acara ( Televisi )
3. Program Director ( Televisi )
4. Producer Director ( Televisi & Film )
Penyutradaraan Sutradara
Sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat.
Di lapangan seorang sutradara
berperan sebagai
manajer, kreator, dan sekaligus inspirator bagi anggota tim produksi dan para
pemeran. Peran yang sedemikian besar mengharuskan sutradara memahami benar konsep cerita, memahami situasi
lingkungan maupun psikologis para pelibat produksi, dan juga harus memahami
bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan semua pelibat produksi. Ibarat
tubuh manusia, sutradara adalah
otaknya, dan yang lain adalah seluruh anggota badan. Otak memerlukan anggota
badan untuk mewujudkan gagasan, badan memerlukan otak untuk mengendalikan.
1. Tugas Sutradara
Menurut
sutradara berbakat, Harry
Suharyadi, tugas seorang sutradara
adalah menerjemahkan atau menginterpretasikan sebuah skenario dalam bentuk
imaji/gambar hidup dan suara. Pada umumnya, seorang sutradara tidak merangkap sebagai produser, meskipun di Amerika
cukup banyak sutradara yang
merangkap produser seperti beberapa kali Kevin Costner merangkap sutradara sekaligus produser.
Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni:
1) praproduksi,
2) produksi atau shooting,
3) pascaproduksi.
Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni:
1) praproduksi,
2) produksi atau shooting,
3) pascaproduksi.
Tugas
sutradara adalah pada tahap
produksi. Namun bukan berarti sutradara
tidak perlu mengetahui aspek praproduksi dan pasca produksi. Pemahaman praproduksi
akan mencegah sikap arogan dan tutuntutan yang berlebih atas peralatan dan
aspek-aspek penunjang produksi yang notabene merupakan tugas tim praproduksi.
Misalnya, sutradara tidak
terlalu menuntut disediakan pemeran yang honornya mahal apabila ia menyadari
bahwa tim budgeting tidak menganggarkan dana berlebih untuk honor pemeran.
Pemahaman pascaproduksi akan mencegah sutradara
menginstruksikan pengambilan gambar dengan komposisi atau enggel yang
penyambungannya mustahil dilakukan oleh editor.
2. Rumus 5-C
2. Rumus 5-C
Sebelum
seorang sutradara mengarahkan
semua pemain dalam sebuah produksi, ada baiknya sutradara memiliki kepekaan terhadap Rumus 5 –C, yakni close up
(pengambilan jarak dekat), camera angle (sudut pengambilan kamera), composition
(komposisi), cutting (pergantian gambar), dan continuity (persambungan
gambar-gambar) (Hartoko 1997: 17). Kelima unsur ini harus diperhatikan oleh sutradara berkaitan dengan tugasnya
nanti di lapangan.
Close Up
Close Up
Unsur
ini diartikan sebagai pengambilan jarak dekat. Sebelum produksi (shooting d I
lapangan) harus mempelajari dahulu skenario, lalu diuraikan dalam bentuk
shooting script, yakni keterangan rinci mengenai shot-shot yang harus
dijalankan juru kamera. Terhadap unsur close up, dia harus betul-betul
memperhatikan, terutama berkaitan dengan emosi tokohnya. Gejolak emosi,
peradaban gundah sering harus diwakili dalam shot-shot close up. Bagi seorang
kritikus film, sering unsur menjadi poin tersendiri ketika menilai sebuah film.
Untuk itu, unsur ini harus menjadi perhatian sutradara.
Camera Angle
Unsur
ini sangat penting untuk memperlihatkan efek apa yang harus muncul dari setiap
scene (adegan). Jika unsur ini diabaikan bisa dipastikan film yang muncul
cenderung monoton dan membosankan sebab camera angle dan close up sebagai unsur
visualisasi yang menjadi bahan mentah dan harus diolah secermat mungkin. Harry
mencontohkan, untuk film-film opera sabun sering ada pembagian kerja antara
pengambilan gambar yang long shot d a n close up untuk kemudian diolah dalam
proses editingnya. Variasi pengambilan gambar dengan camera angle dapat
mengayakan unsur filmis sehingga film terasa menarik dan memaksa penonton untuk
mengikutinya terus.
Composition
Composition
Unsur
ini berkaitan erat dengan bagaimana membagi ruang gambar dan pengisiannya untuk
mencapai keseimbangan dalam pandangan. Composition merupakan unsur visualisasi
yang akan memberikan makna keindahan terhadap suatu film. Pandangan mata
penonton sering harus dituntun oleh komposisi gambar yang menarik. Tidak jarang
para peresensi film memberikan penilaian terhadap unsur ini karena unsur inilah
yang akan menjadi pertaruhan mata penontonnya. Jika aspek ini diabaikan, jangan
harap penonton akan menilai film ini indah dan enak ditonton. Seorang sutradara harus mampu mengendalikan
aspek ini kepada juru kamera agar tetap menjadi komposisi secara proporsional
berdasarkan asas komposisi.
Cutting
Cutting
Diartikan
sebagai pergantian gambar dari satu scene ke scene lainnya. Cutting termasuk
dalam aspek pikturisasi yang berkaitan dengan unsur penceritaan dalam urutan
gambar-gambar. Sutradara harus
mampu memainkan imajinasinya ketika menangani proses shooting. Imajinasi yang
berjalan tentunya bagaimana nantinya jika potongan-potongan scene ini diedit
dan ditayangkan di monitor.
Continuity
Continuity
Unsur
terakhir yang harus diperhatikan sutradara
adalah continuity, yakni unsure persambungan gambar-gambar. Sejak awal, sutradara bisa memproyeksikan
pengadegan dari satu scene ke scene lainnya. Unsur ini tentunya sangat
berkaitan erat dengan materi cerita. Sering penonton merasa film yang
ditontonnya loncat ke sana atau ke mari tidak karuan sehingga membuat bingung.
Terhadap kasus ini karena sutradara
tidak mampu memperhatikan aspek kontinuitas dari film yang digarapnya.
3. Unsur Visual (visual element)
3. Unsur Visual (visual element)
Selanjutnya
masih dalam tahap persiapan penyutradaraan,
seorang sutradara juga harus
memahami unsur-unsur visual (visual element) yang sangat penting dalam
mengarahkan seluruh krunya. Ada enam unsur visual yang harus diperhatikan,
sikap pose (posture), gerakan anggota badan untuk memperjelas (gesture),
perpindahan tempat (movement), tindakan/perbuatan tertentu (purpose action),
ekspresi wajah (facial expression), dan hubungan pandang (eye contact)
(Hartoko, 1997:25).
Sikap/Pose
Sikap/Pose
Jika
anda mengarahkan para pemain dalam film yang anda buat, hal pertama yang
menjadi arahan adalah sikap/pose (posture) pemainnya. Ini sangat erat kaitannya
dengan penampilan pemain di depan kamera. Dengan monitor yang tersedia, sutradara harus mampu memperhatikan
pose pemainnya secara wajar dan memenuhi kaidah dramaturgi. Sebelum pose sesuai
dengan tuntutan skenario usahakan sutradara
jangan putus asa terus mencoba. Apalagi untuk kalangan indie yang cenderung
pemainnya masih baru atau belum pernah main sama sekali (tetapi gratis).
Gerakan Anggota Badan
Gerakan Anggota Badan
Sesuai
dengan shooting script, tentunya seorang atau beberapa pemain harus
menggerakkan anggota tubuhnya. Namun, gesture yang mereka mainkan harus
betul-betul kontekstual. Artinya, harus betul-betul nyambung dengan gerakan
anggota tubuh sebelumnya. Misalnya, setelah seorang pemain minum air dari gelas
tentunya gerakan berikutnya mengembalikan gelas tersebut dengan baik. Jangan
sampai ada gerakan-gerakan tubuh yang secara filmis dapat menimbulkan
kejanggalan.
Perpindahan Tempat
Perpindahan Tempat
Seorang
Sutradara dengan jeli akan
memperhatikan dan mengarahkan setiap perpindahan
pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.
Tindakan Tertentu
pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.
Tindakan Tertentu
Aspek
ini tentunya dikaitkan dengan casting yang diberikan kepada seseorang. Casting
di
sini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.
Ekspresi Wajah
sini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.
Ekspresi Wajah
Unsur
ini sering berkaitan dengan penjiwaan terhadap naskah. Wajah merupakan cermin
bagi jiwa seseorang. Konsep inilah yang mendasari aspek ini harus diperhatikan
betul oleh sutradara. Terutama
untuk genre film drama, unsur ekspresi wajah memegang peran penting. Banyak
juga film action semacam Gladiator menajamkan aspek ekspresi wajah. Shot-shot
close up yang indah dan pas dapat mewakili perasaan sang tokoh dalam sebuah
film. Contoh kecil sering ditampilkan dalam perfilman India. Jika seseorang
sedang jatuh cinta ukuran gambar big close up bergantian antara pria dan
wanita. Namun sutradara juga
harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.
Hubungan Pandang
harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.
Hubungan Pandang
Hampir
sama dengan ekspresi wajah, hubungan pandang di sini diartikan adanya kaitan
psikologis antara penonton dan yang ditonton. Untuk membuat shot-shot-nya,
biasanya sutradara selalu
memberikan arahan kepada pemain film agar menganggap kamera sebagai mata
penonton. Dengan cara seperti ini, biasanya kaidah hubungan pandang ini akan
tercapai. Dengan mengibaratkan kamera sebagai mata penonton, berarti pemain
harus berlakon sebaik mungkin untuk berkomunikasi dengan penonton lewat lensa
kamera. Dengan demikian, apa pun yang akan dilakonkan pemain seolah-olah ada
yang mengawasi, yakni kamera sebagai representasi dari penonton.
Dengan
menguasai Rumus 5 C dan Visual Element
secara baik dan benar bisa dipastikan seorang sutradara akan mampu membuat film menjadi tontonan menarik dan
munculnya situasi komunikatif antara tontonan dan penonton. Di sinilah alasan
mengapa sebuah film dianggap sebagai produk komunikasi massa periodik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar